Menikmati Lelah

deka 2016-03-24 10:18:04 Akhlak Anak
Terkadang orang mengira bahwa kita tidak pernah lelah. Padahal, sebagaimana manusia biasa kita pernah pula merasakan lelah. Pagi ini pun, saya yakin ada yang merasakan lelah dengan aktifitas sehari - hari.

Menurut saya, lelah itu wajib. Tidak boleh kita bermalas-malasan dengan alasan nanti lelah atau takut lelah. Justru lelah itu pertanda kita hidup. Lantas lelah yang wajib itu seperti apa? Menurut saya ada tiga cirinya.

Pertama, lelahnya menghasilkan. Kata “hasil” tidak harus merujuk kepada uang. Hasil juga bisa bermakna meningkatkan persahabatan, kedekatan, kebahagiaan, kekompakkan, kenikmatan dan lain sebagainya.

Kedua, tidak disertai keluhan. Keluhan akan membuat lelah semakin lelah dan merusak pikiran serta hati. Segera lakukan, kalibrasi jika merasa lelah. Banyak cara untuk melakukan kalibrasi, misalnya ngobrol dengan orang yang dicintai, olah raga ringan, jalan-jalan ke tempat yang baru, tidur, silaturahmi, “bercengkerama” dengan Allah SWT.

Ketiga, tidak menjauhkan kita kepada-Nya. Saat kita lelah dan kemudian kita kehilangan moment-moment beribadah yang penting itu adalah “alarm” atau sinyal bahwa lelah kita itu salah. Ada hal yang perlu diperbaiki. Misalnya, bila lelah kita membuat kita bangun tidur kesiangan sehingga membuat kita tidak sholat subuh berjamaah di masjid boleh jadi kita perlu mengevaluasi aktivitas yang telah membuat kita lelah.

Lelah yang baik itu bernilai ibadah. Lelah yang baik itu menghasilkan. Lelah yang baik itu tidak menghasilkan keluhan. Lelah yang baik itu memberi manfaat kepada banyak orang. Lelah yang baik itu membuat kita bertumbuh. Lelah yang baik itu tidak bertahan lama, ia hanya mampir sejenak dan tidak membebani kita.

Mari jadikan lelah menjadi Lillah, Insya Alloh hidup berlimpah berkah.


Baca Artikel Lainnya