Sepotong Roti Bakar Gosong

deka 2016-03-09 17:17:02 Tausiyah
Ketika Aku berusia delapan tahun, aku ingat betul ibu sangat suka memasak. Ia selalu menyempatkan diri untuk membuat masakan lezat untuk kami. Namun, suatu malam, aku merasa kecewa berat, karena Ibu tak seperti biasanya.

Seharian penuh ibu bekerja, lalu baru pulang sore harinya. Ibu pun menyiapkan makan malam untukku dan ayah. Tapi tak pernah terbayang bahwa makan malam yang disiapkan ibu adalah sepotong roti bakar gosong dan setoples selai. Aku tak berani berkata apa-apa, hanya mematung menatap roti gosong itu. Sementara ayah dengan santai langsung melahap roti gosong tersebut.

Dan, Aku tak pernah lupa kalimat yang diucapkan ayah saat itu. “Bunda Sayang, Ayah suka roti bakar ini,” Kata Ayah. Jelas saja aku heran. Bagaimana bisa ayah bilang kalau ia suka pada roti yang sudah gosong itu.

Setelah makan malam usai, diam-diam aku bertanya pada ayah di ruang TV tatkala Ibu tak ada di ruangan. “Apakah ayah benar-benar suka roti gosong itu?”

Ayah melingkarkan tangannya di bahuku, lalu berkata. “Ibumu seharian penuh bekerja hari ini dan ia pasti sangat lelah. Selain itu, Sepotong roti gosong tak akan pernah melukai hati seseorang, termasuk Ayah, Ayah tak merasa kecewa sedikit pun karena hanya sepotong Roti Gosong itu. Tapi perlu kamu tahu Apa yang lebih menyakitkan daripada itu anakku?” Di akhir kalimatnya, Ayah malah bertanya balik. Aku hanya bisa menggeleng.

“Hal yang lebih menyakitkan seseorang adalah kata-kata yang menyinggung perasaan,” lalu ayah melanjutkan, “Kau tahu, tak semua hal dan semua orang di dunia ini tidak ada yang sempurna. Begitu pula dengan ayah. Ayah masih sering melupakan hari-hari penting, seperti ulang tahunmu, ulang tahun ibumu, atau ulang tahun pernikahan Kami. Tapi setelah bertahun-tahun lamanya, Ayah mulai belajar untuk menerima kelemahan dan kekurangan orang lain. Tak memperdebatkan perbedaan. Dan itulah kunci hubungan yang harmonis yang akan berlangsung lama.”

Saat itu aku memang masih kecil, tapi entah kenapa kata-kata itu begitu menancap dalam ingatanku. Khususnya kalimat terakhir yang diucapkan ayah saat itu. Ia bilang, “Hidup terlalu berharga untuk diisi dengan rasa benci dan kecewa. Cintai orang yang memperlakukanmu dengan baik dan sayangi orang-orang yang ada di sekitarmu.”

Dari sepotong roti gosong, Aku belajar banyak hal. Terima kasih ayah. Terima kasih ibu. Kini aku tahu apa itu makna cinta sejati.

?????????

Robbana Taqobbal Minna.
Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin.

Semoga Bermanfaat.
?❤?


Baca Artikel Lainnya